Dari singkatan harfiahnya, ASM adalah asosiasi di Amerika sedangkan ASTM adalah standard Amerika untuk pengujian material. ASM mengembangkang keilmuan yang berhubungan dengan material khususnya logam sedangkan ASTM mengeluarkan standard untuk pengujian material. ASM biasa mengeluarkan buku, Handbook, References, mengadakan pelatihan, mengadakan Seminar dll. ASTM mengeluarkan (menjual) Buku dan CD yang berisi Standard Pengujian
Kalau yang dimaksud "material standar" adalah Material yang digunakan untuk Standarisasi keduanya tidak berhak mengeluarakan sertifikatnya yang berhak adalah Badan Standarisasi dan kalau di Amerika adalah NIST atau yang lainnya.
Sebagai seorang mahasiswa Teknik Mesin, ASM dan ASTM merupakan salah satu makanan yg ku dapatkan di bangku kuliah. Dan kebetulan juga, skripsi yang ku ambil menggunakan ASM dan ASTM ini. Oleh karena tuk mendapatkan e-booknya rada' susah dan membutuhkan waktu yang lama kalau menggunakan akun reguler, ku disini mencoba tuk berbagi kepada siapa saja yang mungkin membutuhkannya tanpa harus menggunakan akun2 yang menjengkelkan. 
1) ASM Handbook - Vol 01 - Properties and Selection Irons,Steels, and High Performance Alloys
2) ASM HandBook - Vol 02 - Properties and Selection Nonferrous Alloys and Special-Purpose Materials
3) ASM Handbook - Vol 03 - Alloy Phase Diagrams
4) ASM HandBook - Vol 04 - Heat Treating
5) ASM Handbook - Vol 05 - Surface Engineering
6) ASM Handbook - Vol 06 - Welding, Brazing, and Soldering
7) ASM Handbook - Vol 07 - Powder Metal Technologies And Applications
8) ASM Handbook - Vol 08 - Mechanical Testing and Evaluation
9) ASM Handbook - Vol 09 - Metallography and Microstructures part001
ASM Handbook - Vol 09 - Metallography and Microstructures part002
10) ASM HandBook - Vol 10 - Materials Characterization
11) ASM Handbook - Vol 11 - Failure Analysis And Prevention part001
ASM Handbook - Vol 11 - Failure Analysis And Prevention part002
12) ASM Handbook - Vol 12 - Fractography
13) ASM Handbook - Vol 13 - Corrosion
ASM Handbook - Vol 13A - Corrosion - Fundamentals, Testing, and Protection
14) ASM HandBook - Vol 14 - Forming and Forging
15) ASM HandBook - Vol 15 - Casting
16) ASM Handbook - Vol 16 - Machining Processes part001
ASM Handbook - Vol 16 - Machining Processes part002
17) ASM Handbook - Vol 17 - Nondestructive Evaluation and Quality Control
18) ASM Handbook - Vol 18 - Friction, Lubrication, and Wear Technology
19) ASM Handbook - Vol 19 - Fatigue And Fracture
20) ASM HandBook - Vol 20 - Materials Selection and Design
21) ASM Handbook - Vol 21 - Composites
22) ASM Metals Handbook Desk Edition
23) ASM Specialty Handbook Heat-Resistant Material
ASTM-2004_full_index
1) 2004_Standards.part01
2) 2004_Standards.part02
3) 2004_Standards.part03
4) 2004_Standards.part04
5) 2004_Standards.part05
6) 2004_Standards.part06
7) 2004_Standards.part07
8) 2004_Standards.part08
9) 2004_Standards.part09
10) 2004_Standards.part10
11) 2004_Standards.part11
12) 2004_Standards.part12
13) 2004_Standards.part13
14) 2004_Standards.part14
15) 2004_Standards.part15
16) 2004_Standards.part16
17) 2004_Standards.part17
18) 2004_Standards.part18
19) 2004_Standards.part19
20) 2004_Standards.part20
21) 2004_Standards.part21
22) 2004_Standards.part22
23) 2004_Standards.part23
24) 2004_Standards.part24
25) 2004_Standards.part25
26) 2004_Standards.part26
Selengkapnya...
Film ini adalah salah satu film yang bermutu yang pernah ku tonton. Selidik punya selidik ternyata film ini memang menang dan banyak diputar di festival film dunia.
Khuda Kay Liye (In The Name of God) bercerita tentang situasi sulit dilematis yang dialami warga Pakistan dan umumnya seluruh Muslim setelah tragedi 11 September. Ketegangan tidak hanya terjadi antara Barat dan Islam, tapi juga antara umat Islam, yaitu kaum Fundamentalis dan Liberal Muslim.
Awal cerita bermula ketika band lokal yang diusung dua kakak-adik (Mansoor dan Sarmad) diserang kelompok lelaki berbaju serba putih, yang menghancurkan panggung yang dibangun. Tak sekadar merusak, kelompok tersebut pun menyerukan keabaran Allah. Ini terjadi menjelang Tahun Baru 2000. Melihat hal itu, timbul penasaran di hati Sarmad. Mengapa orang-orang yang beraga Islam, sama seperti dirinya, tidak menyukai musik?
Sayangnya, Sarmad mendapat jawaban dari orang yang salah. Akibat dari rasa ingin tahu berlebihan, otaknya pun dicuci oleh Ulama Maulana Tahiri, yang menegaskan, "Nabi Muhammad membenci lagu dan musik." Siapa sangka, pengaruh itu membawa Sarmad makin jauh tersesat. Ia mulai diajarkan berjihad untuk tujuan yang salah, melakukan tata kehidupan Islami yang menyimpang. Sarmad percaya lantaran Tahiri selalu mengatasnamakan Allah untuk setiap doktrin yang ditanamnya.
Manshoor melanjukan studi musiknya ke Chicago, jatuh cinta dengan Janie, gadis non-Muslim yang berhenti minum minuman keras karenanya, dan tak lama kemudian mereka menikah. Namun, Peristiwa WTC membuat Manshoor ditangkap hanya karena latar belakang keislamannya.
Film ini mempunyai pernyataan yang cukup keras seputar Peristiwa 9/11, baik kepada Barat atau pun otokritik umat Islam. Kepada AS, ia memprotes betapa tingginya buruk sangka sekaligus rendahnya pehamaman kebanyakan warga AS, apalagi aparatnya terhadap warga Muslim. Lihat saja kesoktahuan seorang interogator yang menyangka jimat (isim) 'pegangan' yang banyak dimiliki Muslim dianggap sebagai sebuah peta karena ada huruf 9 dan 11, dan sialnya si empunya tidak memahami isinya (sesuatu yang juga wajar).
Tapi, kritik tajam justru dialamatkan kepada sesama umat Islam sendiri. Misalnya, bagaimana pemahaman yang picik membuat orang merasa paling benar dan memaksakan kehendaknya di berbagai bidang. Sebut saja soal pengharaman musik, hak-hak perempuan (dalam hal ini kawin paksa), dan memasang atribut identitas seperti jenggot dan cara berpakaian.
Salah satu adegan menarik yang menancap di memori saya adalah kesaksian ulama besar, Maulana Wali (diperankan oleh Naseeruddin Shah) dalam persidangan resmi perihal hukum Islam. Salah satu yang dibahas adalah soal hukum musik. Sang ulama membuka pernyataannya dengan kalimat, "saya punya banyak argumen yang berhubungan dengan musik, tapi saya akan mengajukan satu saja, satu hal yang mencakup semua argumen."
Lalu, dia berkata, "Katakan, berapa banyak utusan Tuhan?" Jawab jaksa, "124 ribu."
Sang ulama dengan lembut melanjutkan, "Dan, dari sekian banyak itu berapa yang diberi anugerah dengan kitab? Hanya empat. Dan keempatnya juga diberi-Nya mukjizat. Mukjizat Nabi kita adalah al Quran itu sendiri. Musa bisa membelah lautan menjadi dua. Isa bisa menghidupkan orang yang telah mati. Dan apa mukjizat Daud? Musik. Suara yang melodius, dan kehebatannya bermain banyak instrumen musik, yang membuah gunung ikut bernyanyi, berbagai burung dari penjuru dunia bersegera menghampiri suaranya. Tengoklah Mazmur, maka Anda akan menemukan detil skala musik dan alat musik yang beliau mainkan untuk memuji Tuhan."
Ruang sidang hening. Sang ustad melanjutkan, "Apakah logis jika Tuhan memilih benda yang tak murni sebagai alat memuja-Nya? Dan, apakah Dia akan menganugerahkan salah satu Rasul yang paling Ia cintai dengan sesuatu yang kotor?"
Ia pun menyambung dengan contoh dari Rasulullah. “Apakah mungkin Nabi kita membenci musik tapi bertanya pada istrinya Aisyah, 'Suku yang sedang mengadakan pesta pernikahan ini sangat menggemari musik. Apakah kamu telah mengirim para penyanyi wanita untuk bernyanyi dalam upacara perkawinannya?' Apakah Rasul kita membenci musik tapi juga memuji Abu Musa Asyari yang sedang melantunkan Quran dengan berkata, 'Sepertinya Allah telah meletakkan harpa Daud AS di dalam tenggorokanmu?'
Di kali yang lain, sang kiai ini juga menggarisbawahi untuk tidak mencampuradukkan antara agama dan budaya--dengan kata lain: ibadah dan muamalah. Dengan pernyataan keras ini, Shoaib pun terkena teror oleh Islam garis keras (semacam FPI-nya Pakistan), bahkan ia diancam bunuh karena mempromosikan kehalalan musik dan perkawinan beda agama. Tak kurang dari Perdana Menteri Pakistan sendiri yang turun tangan memerintahkan menjaga keamanannya. Tapi, ia tetap berjuang di jalur yang dianggapnya benar. Ia baru saja menyelesaikan film keduanya, 'Speak'.
Inilah film yang dengan lihai memasukkan unsur propaganda dan menjadi alat pernyataan politik, media komunikasi, tapi diracik dengan skenario dan sinematografi yang ciamik. Dan juga lagu-lagu yang menawan. Salah satu adegan favorit saya adalah kala Manshoor bermain piano dengan gaya Pakistan, mahasiswa lainnya mengikuti iramanya dengan alat musik dan gaya masing-masing budaya. Sebuah contoh menarik dari multikulturalisme.
Pesan moralnya, membuat film yang bermutu, ada pernyataan (politik/personal), dan laku bukanlah hal yang tak mungkin.
Selengkapnya...
